Firman Allah Swt.:
{فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ}
Maka apabila langit telah terbelah. (Ar-Rahman: 37)
Yakni kelak di hari kiamat, seperti yang ditunjukkan oleh ayat-ayat
sebelumnya dan yang sesudahnya dalam surat ini, juga ayat-ayat lainnya
yang semakna, misalnya firman-Nya:
{وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ}
dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. (Al-Haqqah: 16)
{وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ وَنزلَ الْمَلائِكَةُ تَنزيلا}
Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih
dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. (Al-Furqan: 25)
Dan firman Allah Swt.:
{إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ. وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ}
Apabila langit terbelah dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh.(Al-Insyiqaq: 1-2)
Adapun firman Allah Swt.:
{فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ}
dan menjadi merah mawar seperti (kilapan)minyak. (Ar-Rahman: 37)
Yaitu lebur sebagaimana leburnya emas dan perak dalam penuangannya, dan
berwarna-warni sebagaimana warna-warni obat celup; maka adakalanya
berwarna merah, adakalanya kuning, adakalanya hijau, dan adakalanya
biru. Demikian itu terjadi karena kerasnya azab dan dahsyatnya kejadian
hari kiamat yang sangat besar.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ،
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الصَّهْبَاءِ، حَدَّثَنَا
نَافِعٌ أَبُو غَالِبٍ الْبَاهِلِيُّ، حَدَّثَنَا أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: "يُبْعَثُ النَّاسُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاءُ تَطِش عَلَيْهِمْ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul
Malik, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abus Sahba,
telah menceritakan kepada kami Naff alias Abu Galib Al-Bahili, telah
menceritakan kepada kami Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa
Rasulullah Saw. pernah bersabda: Manusia kelak dibangkitkan pada hari
kiamat, sedangkan langit berjatuhan menimpa mereka bagaikan hujan
gerimis.
Al-Jauhari mengatakan bahwa at-tasysyu artinya hujan gerimis.
Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna
firman-Nya: dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.(Ar-Rahman:
37) Yakni seperti kulit yang berwarna merah.
Abu Kadinah telah meriwayatkan dari Qabus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan makna firman-Nya: dan menjadi merah mawar seperti
(kilapan) minyak. (Ar-Rahman:37) Yaitu seperti warna kulit kuda yang
merah.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud
ialah warnanya berubah. Abu Saleh mengatakan bahwa pada mulanya seperti
kuda yang berwarna merah, sesudah itu kelihatan mengilap seperti kilapan
minyak. Imam Al-Bagawi dan lain-lainnya menceritakan bahwa bunga mawar
jika musim semi berwarna kuning dan musim dingin berwarna merah, jika
dinginnya terlalu ekstrim berubah warnanya.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, bahwa bunga mawar itu beragam warnanya.
As-Saddi mengatakan, bahwa bunga mawar itu warnanya ada yang seperti merah beghal, ada pula seperti minyak yang mendidih.
Mujahid mengatakan bahwa ad-dihan artinya seperti warna minyak yang mengilap.
Ata Al-Khurrasani mengatakan seperti warna minyak mawar yang merah kekuning-kuningan.
Qatadah mengatakan bahwa warna langit sekarang adalah biru, dan pada
hari itu warnanya berubah menjadi kemerah-merahan, yaitu di hari langit
menjadi beraneka ragam warnanya.
Abul Jauza mengatakan warnanya sebening warna minyak.
Ibnu Juraij mengatakan bahwa langit di hari itu seperti minyak yang mencair, karena terkena panasnya neraka Jahanam.
Dari ayat kajian di atas, nampak sekali Alquran senantiasa memberikan
kepada kita perumpamaan yang fantastis untuk mendekatkan umat manusia
kepada fenomena hari kiamat, Allah SWT di dalam ayat kajian
menggambarkan sebuah gejala yang sangat dahsyat akan di lalui umat
manusia, yaitu peristiwa terbelahnya langit pada hari kiamat. Dan proses
pembelahan langit itu akan nampak seperti sekuntum bunga mawar yang
berwana merah menkilap.
Firman Allah Swt.:
{فَيَوْمَئِذٍ لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلا جَانٌّ}
Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya. (Ar-Rahman: 39)
Ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{هَذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُونَ. وَلا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُونَ}
Inilah hari, saat mereka tidak dapat berbicara(pada hari itu), dan tidak
diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka
dimaafkan.(Al-Mursalat: 35-36)
Apa yang disebutkan dalam ayat ini menceritakan suatu keadaan, dan dalam
keadaan yang lainnya semua makhluk akan ditanyai tentang amal perbuatan
mereka. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ}
Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (Al-Hijr: 92-93)
Karena itulah maka Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna
firman-Nya: Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang
dosanya. (Ar-Rahman: 39) Bahwa sebenarnya telah dilakukan pertanyaan,
kemudian mulut-mulut kaum dikunci dan berbicaralah kedua tangan dan
kedua kaki mereka menceritakan apa yang telah mereka kerjakan.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. yang
mengatakan bahwa Allah Swt. tidak menanyai mereka, "Apakah kamu telah
melakukan anu dan anu?" Karena Dia lebih mengetahui hal itu daripada
mereka sendiri, melainkan Allah bertanya kepada mereka, "Mengapa kalian
melakukan anu dan anu?" Ini merupakan pendapat yang kedua.
Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan ayat ini, bahwa para malaikat
tidak menanyakan tentang orang-orang yang berdosa, melainkan para
malaikat mengetahui mereka dengan sendirinya melalui tanda-tanda yang
ada pada mereka. Ini merupakan pendapat yang ketiga. Seakan-akan
pengertian pendapat ini menyebutkan bahwa sesudah orang-orang yang
berdosa itu diperintahkan agar dimasukkan ke dalam neraka, maka saat itu
mereka tidak ditanyai tentang dosa-dosa mereka, bahkan mereka langsung
digiring ke dalamnya, kemudian dicampakkan ke dalamnya, seperti
pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
{يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ}
Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya. (Ar-Rahman: 41)
Yakni melalui tanda-tanda yang ada pada diri mereka.
Al-Hasan dan Qatadah mengatakan bahwa para malaikat mengenal mereka melalui rupa mereka yang hitam dan mata mereka yang biru.
Ini kebalikan dari apa yang ada pada diri orang-orang mukmin; mereka
dikenal melalui tanda-tanda yang ada pada diri mereka, yaitu mencorong
(kemilauan) dan bercahaya akibat dari bekas wudu mereka.
Firman Allah Swt.:
{فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالأقْدَامِ}
lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka. (Ar-Rahman: 41)
Para malaikat zabaniyah (juru siksa) memegang ubun-ubun dan kedua kaki mereka, lalu mencampakkan mereka ke dalam neraka.
Al-A'masy telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ubun-ubun seseorang
dari mereka dipegang bersama kedua kakinya hingga patah sebagaimana kayu
bakar dipatahkan di dalam pembakaran roti.
Ad-Dahhak mengatakan, ubun-ubun dan kedua kakinya disatukan dengan
rantai dari arah belakang punggungnya. As-Saddi mengatakan bahwa
ubun-ubun orang kafir dan kedua telapak kakinya dijadikan menjadi satu
dan punggungnya dililitkan.
قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ
الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةَ بْنِ سَلَّامٍ، عَنْ
أَخِيهِ زَيْدِ بْنِ سَلَّامٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ -يَعْنِي
جَدَّهُ-أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنِي رَجُلٌ مِنْ كِنْدَةَ
قَالَ: أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَدَخَلْتُ عَلَيْهَا، وَبَيْنِي وَبَيْنَهَا
حِجَابٌ، فَقُلْتُ: حَدَّثَكِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَأْتِي عَلَيْهِ سَاعَةٌ لَا يَمْلِكُ لِأَحَدٍ فِيهَا
شَفَاعَةً؟ قَالَتْ: نَعَمْ، لَقَدْ سَأَلْتُهُ عَنْ هَذَا وَأَنَا وَهُوَ
فِي شِعَار وَاحِدٍ، قَالَ: "نَعَمْ حِينَ يُوضَعُ الصِّرَاطُ، وَلَا
أَمَلِكُ لِأَحَدٍ فِيهَا شَفَاعَةً، حَتَّى أَعْلَمَ أَيْنَ يُسْلَكُ بِي؟
وَيَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ، حَتَّى أَنْظُرَ مَاذَا
يُفْعَلُ بِي -أَوْ قَالَ: يُوحَى-وَعِنْدَ الْجِسْرِ حِينَ يَسْتَحِدُّ
وَيَسْتَحِرُّ" فَقَالَتْ: وَمَا يَسْتَحِدُّ وَمَا يَسْتَحِرُّ؟ قَالَ:
"يَسْتَحِدُّ حَتَّى يَكُونَ مثل شفرة السيف، ويستحر حتى يكونمِثْلَ
الْجَمْرَةِ، فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُجِيزُهُ لَا يَضُرُّهُ، وَأَمَّا
الْمُنَافِقُ فَيَتَعَلَّقُ حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَوْسَطَهُ خَرَّ مِنْ
قَدِمِهِ فَيَهْوِي بِيَدِهِ إِلَى قَدَمَيْهِ، فَتَضْرِبُهُ
الزَّبَانِيَةُ بِخُطَّافٍ فِي نَاصِيَتِهِ وَقَدَمِهِ، فَتَقْذِفُهُ فِي
جَهَنَّمَ، فَيَهْوِي فِيهَا مِقْدَارَ خَمْسِينَ عَامًا". قُلْتُ: مَا
ثِقَلُ الرَّجُلِ؟ قَالَتْ: ثِقَلُ عَشْرِ خَلِفَاتٍ سِمَانٍ، فَيَوْمَئِذٍ
يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي
وَالْأَقْدَامِ.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Abu Taubah Ar-Rabi" ibnu Nafi', telah
menceritakan kepada karni Mu'awiyah ibnu Salam, dari saudaranya Zaid
ibnu Salam, bahwa ia pernah mendengar Abu Salam (yakni kakeknya)
mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman, telah menceritakan
kepadaku seseorang dari Kindah yang mengatakan bahwa ia pernah datang
kepada Siti Aisyah, lalu diizinkan masuk menemuinya, sedangkan antara
dia dan Aisyah terdapat hijab. Lalu ia bertanya, "Apakah Rasulullah Saw.
pernah menceritakan kepadamu bahwa akan datang suatu saat yang di saat
itu tiada seorang pun yang memiliki syafaat?" Siti Aisyah r.a. menjawab,
"Benar, aku telah menanyakan tentang masalah itu kepada beliau,
sedangkan aku dan beliau berada di dalam satu selimut. Lalu beliau Saw.
menjawab bahwa hal itu benar, yaitu ketika sirat telah dipasang, aku
tidak memiliki suatu syafaat pun bagi seseorang saat itu sebelum aku
mengetahui ke manakah sirat membawaku. Dan pada hari itu ada wajah-wajah
yang kelihatan putih bersinar dan ada pula wajah-wajah yang tampak
hitam legam, hingga aku mengetahui apakah yang akan dilakukan terhadapku
—atau apa yang akan diwahyukan kepadaku— dan jembatan itu semakin tajam
dan semakin panas. Aku bertanya, "Apakah yang dimaksud dengan
pengertian makin tajam dan makin panas?" Nabi Saw. menjawab, "Makin
bertambah tajam hingga seperti tajamnya mata pedang, dan makin panas
hingga seperti panasnya bara api. Orang mukmin akan dapat melaluinya
tanpa membahayakan dirinya. Adapun orang munafik, maka ia dapat
bergantung kepadanya; dan apabila sampai di pertengahannya, maka
terjungkallah ia dan kedua tangannya bergantungan sama dengan kedua
kakinya." Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa tidakkah kamu pernah
melihat seseorang yang berjalan tanpa terompah, lalu kakinya tertusuk
duri hingga hampir menembus kedua telapak kakinya. Maka seperti itulah
keadaan orang munafik, tangan dan kepalanya terjatuh ke tempat kedua
telapak kakinya, lalu malaikat zabaniyah (juru siksa) memukulinya dengan
pengait-pengait pada ubun-ubun dan telapak kakinya. Kemudian malaikat
zabaniyah mencampakkannya ke dalam neraka Jahanam dan ia terjatuh ke
dalamnya selama kurang lebih lima puluh tahun. Aku (Aisyah) bertanya,
"Bagaimakah dengan berat seorang lelaki?" Nabi Saw. menjawab, "Sama
beratnya dengan sepuluh ekor unta yang gemuk-gemuk, dan pada hari itu
orang-orang yang berdosa dapat dikenal melalui tanda-tanda yang ada pada
diri mereka, lalu ditangkaplah ubun-ubun dan kedua telapak kaki mereka
(dan dilemparkan ke dalam Jahanam)."
Hadis ini garib sekali dan di dalamnya terdapat banyak lafaz yang tidak
dapat dikatakan berpredikat marfu', sedangkan dalam sanadnya terdapat
seorang perawi yang tidak disebutkan namanya. Hadis semisal ini tidak
dapat dijadikan sebagai hujah; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Firman Allah Swt.:
{هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ}
Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa. (Ar-Rahman: 43)
Maksudnya, inilah neraka yang dahulu kalian dustakan keberadaannya, kini
berada di hadapan kalian yang kalian saksikan sendiri dengan mata
kalian sendiri. Dikatakan hal ini kepada mereka sebagai kecaman,
cemoohan, dan penghinaan terhadap mereka.
Firman Allah Swt.:
{يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ}
Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya. (Ar-Rahman: 44)
Yakni adakalanya mereka disiksa di dalam neraka Jahanam, dan adakalanya
mereka diberi minumhamim, yaitu minuman yang panasnya sama dengan
tembaga yang dilebur hingga semua usus dan isi perut mereka hancur
karenanya. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat
lain melalui firman-Nya:
{إِذِ الأغْلالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلاسِلُ يُسْحَبُونَ. فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ}
ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka
diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar
dalamapi. (Al-Mu’min: 71-72)
Firman Allah Swt. yang menyebutkan an artinya sangat panas hingga tidak tertahankan lagi karenanya.
Ibnu Abbas r.a. telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang
memuncak panasnya. (Ar-Rahman: 44) Titik didihnya telah mencapai
puncaknya hingga panasnya tak terperikan. Hal yang sama telah dikatakan
oleh Mujahid, Sa'id ibnu Jubair. Ad-Dahhak, Al-Hasan, As-Sauri, dan
As-Saddi.
Qatadah mengatakan bahwa telah mendidih sejak Allah menciptakan bumi dan
langit. Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan bahwa seorang hamba
ditangkap, lalu diputar pada ubun-ubunnya di dalam air yang telah
memuncak panasnya itu, hingga semua dagingnya lebur dan yang tertinggal
adalah tulang-tulangnya serta kedua matanya yang ada di kepala. Hal ini
semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya: ke dalam air
yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api. (Al-Mu’min: 72)
Al-hamim sama artinya dengan al-har, yakni air yang sangat panas. Di
riwayatkan dari Al-Qurazi dalam riwayat yang lain bahwa hamimin an
artinya air yang sangat panas yang disediakan saat itu juga; hal yang
sama dikatakan oleh Ibnu Zaid. Pengertian ini tidaklah bertentangan
dengan apa yang diriwayatkan dari Al-Qurazi di atas, yang mengatakan air
yang sangat panas, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui
firman-Nya:
{تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ}
diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. (Al-Ghasyiyah: 5)
Yakni yang disuguhkan dalam keadaan sangat panas lagi tak terperikan
panasnya. Sama juga dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ}
dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak(makanannya). (Al-Ahzab: 53)
Yaitu kemasakan dan kematangannya.
Firman Allah Swt.:
{حَمِيمٍ آنٍ}
air mendidih yang memuncak panasnya. (Ar-Rahman: 44)
Maksudnya, air yang titik didihnya telah mencapai puncak yang tertinggi dan sangat panas.
Mengingat hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang yang durhaka lagi
berdosa dan pemberian nikmat kepada orang-orang yang bertakwa merupakan
karunia, rahmat, keadilan, dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya dan
adalah peringatan Allah terhadap mereka tentang azab dan pembalasan-Nya
untuk mencegah mereka dari kemusyrikan dan kedurhakaannya dan lain
sebagainya, maka dalam ayat berikut Allah Swt. berfirman menyebutkan
perihal karunia-Nya itu kepada makhluk-Nya:
{فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ}
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 45)
Namun, sebelum lebih jauh menjelaskan mukjizat ayat kajian kita, penulis
ingin menceritakan sebuah peristiwa langka yang menakjubkan, baru-baru
ini para astronom menemukan suatu fenomena menarik di langit (luar
angkasa), mereka menyaksikan gumpalan raksasa dari nebula (awan) yang
mereka sebut dengan "Rosette Nebula", yang artinya kembang awan atau
awan yang berbentuk bunga mawar besar.
Kemudian para ilmuan tersebut menyingkap bahwa awan yang berbentuk mawar
raksasa itu adalah berasal dari sebuah bintang besar yang menyemburkan
gaz dalam skala sangat besar dan kecepatan yang amat tinggi disebabkan
oleh tegangan yang sangat tinggi dan suhu panas yang memuncak di atas
permukaannya. Lalu gaz-gaz itu menyatu berlapis-lapis sehingga
menyerupai bunga mawar raksasa dengan beraneka ragam warna meski dominan
berwarna merah persis seperti sepucuk bunga mawar merah yang menkilap
sebagaimana diceritakan di dalam Alquran pada ayat kajian di atas.
Selanjutnya, ada sebuah foto yang lebih menakjubkan lagi, diambil oleh
ilmuan NASA tentang ledakan sebuah bintang yang efeknya menyerupai
sekuntum bunga mawar juga seperti diceritakan di dalam Alquran tersebut.
Nah, dari ledakan bintang ini kita bisa menyaksikan ilustrasi bagaimana
langit akan terbelah di hari kiamat, dan bentuknya seperti mawar merah.
Maka foto di atas bisa dikatakan sebagai minuatur identik dari
peristiwa hari kiamat yang akan kita saksikan kelak.
Sehubungan dengan kemajuan sains dan teknologi pada abad ke-20 lalu,
para ilmuan khususnya dibidang astronomi telah mampu mengobserpasi
langit (angkasa luar) dan segala apa yang di amati di sekitarnya dari
bintang-bintang dengan jelas melalui teleskop bumi dan teleskop luar
angkasa, maka para astronom pun dapat mengetahui bahwa bintang-bintang
di langit itu mengalami proses perkembangan yang berbeda, di mana
bintang-bintang generasi ketiga lahir dari bintang-bintang besar yang
mengalami ledakan dahsyat, yang selanjutnya muncul bintang-bintang baru
yang bersinar dan sebagian padam serta mati, sebagaimana yang akan
dijelaskan di bawah.
Bagaimana Bisa Nampak Ledakan Seperti Mawar?
Sebuah pertanyaan yang telah menggugah para pakar tafsir dunia semenjak
lebih dari 20 tahun lalu, dan yang pasti bahwa berita yang di sampaikan
ayat kajian dari surah Arrahman itu belum terjadi, hingga kita akan
mendapatkan ilustrasi live yang seakan-akan peristiwa itu benar-benar
terjadi di depan mata jika kita menghubungkan dengan surah Al Insyiqaq,
Allah berfirman:
إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتْ (1) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (2)
وَإِذَا ٱلأَرْضُ مُدَّتْ (3) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (4)
وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (5)
Artinya: "Apabila langit terbelah; dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah
semestinya patuh; dan apabila bumi diratakan; dan memuntahkan apa yang
ada di dalamnya dan menjadi kosong; dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah
semestinya patuh" (QS: 084: 1-5).
Maka jelas bahwa berita yang terkandung di dalam ayat kajian adalah
gambaran tentang sebuah peristiwa, yaitu "langit terbelah", dimana ayat
menjelaskan kepada kita bahwa ketika terjadi ledakan suatu bintang maka
akan terjadi sebuah belahan di langit pada lokasi bintang itu, dan
bentuknya seperti mawar merah sebagaimana nampak dalam gambar. Situs
resmi dari badan antariksa Amerika Serikat NASA menjelaskan bahwa
bintang yang meledak dalam gambar itu adalah mempunyai ciri yang sama
dengan karakter matahari kita dan ukurannya pun hampir sama, dan
kemungkinan besar nasib matahari kita akan berakhir seperti itu pula.
Langit Terbelah Pada Hari Kiamat:
Adapun kandungan yang terdapat di dalam surah Al Insyiqaq di atas,
adalah merupakan gambaran live tentang peristiwa hari kiamat. Oleh
karena itu nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya, bersabda:
"Barangsiapa yang ingin menyaksikan peristiwa kiamat seakan-akan melihat
terjadi di depan mata, maka hendaklah membaca (ayat): "إذا الشمس كورت"
(Apabila matahari digulung); "وإذا السماء انفطرت" (Apabila langit
terbelah); "وإذا السماء انشقت" (Apabila langit terbelah)" (Hadits).
Jika kita ingin mengurut peristiwa-peristiwa yang akan dialami manusia
pada hari kiamat seperti susunan surah, yaitu surah Attakwir(081); surah
Alinfithar (082); dan surahAlinsyiqaq (084), berdasarkan hadits nabi
SAW maka dapat diurutkan seperti: Pertama, tiupan yang mengejutkan;
kedua, tiapan yang membinasakan; dan ketiga, tiupan membangkitkan di
hadapan Allah Tuhan semesta alam. Atau seperti yang digambarkan pada
surah Attakwir, Allah berfirman:
إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ (1) وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ (2) وَإِذَا
ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ (3) وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ (4)
Artinya: "Apabila matahari digulung; dan apabila bintang-bintang
berjatuhan; dan apabila gunung-gunung dihancurkan; dan apabila unta-unta
yang bunting ditinggalkan (tidak terurus)" (QS: 084: 1-5).
Bahwa sesungguhnya yang akan terjadi pertama kali (tiupan sangkakala
pertama) adalah pada fase "attakwir" (matahari digulung), yaitu badai
matahari yang sangat kencang dibarengi dengan asap yang tebal maka
matahari akan tertutup (collapse), yang berakibat pada hilangnya sinar
matahari karena gaz-gaz hydrogine yang menjadi sumber energi utamanya
telah melayang terbawa oleh angin dan asap tadi. Meski telang hilang
cahaya matahari, ia tetap akan menjelma menjadi bintang yang tidak dapat
dilihat karena gugur berjatuhan.
Pada saat genting seperti ini akan terjadi kepanikan total maka segala
yang hamil akan melahirkan semua kandungannya, lempengan-lempengan bumi
dan samudera akan bergerak dan bergeser berjauhan, terjadi gempa
tektonik diseluruh pelosok bumi, keadaan ini persis seperti yang
digambarkan Alquran dalam surah Al Zalzalah, Allah berfirman:
إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ ٱلأَرْضُ أَثْقَالَهَا(2) وَقَالَ ٱلإِنسَانُ مَا لَهَا (3)
Artinya: "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan dahsyat; dan bumi
telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya; dan, manusia
bertanya, apa yang terjadi pada bumi ini?" (QS: 099: 1-5).
Peristiwa selanjutnya gunung-gunung dihancurkan, peristiwa ini nampak jelas diceritakan pada surah Al Hajj, Allah berfirman:
يٰأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ ٱلسَّاعَةِ
شَيْءٌ عَظِيمٌ (1)يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ
أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى ٱلنَّاسَ
سُكَارَىٰ وَمَا هُم بِسُكَارَىٰ وَلَـٰكِنَّ عَذَابَ ٱللَّهِ شَدِيدٌ
(2).
Artinya: "Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya
guncangan (hari) kiamat itu ada suatu (kejadian) yang sangat besar; pada
hari ketika kamu melihat (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui
anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan
yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam
keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah
itu sangat keras" (QS: 022: 1-3).
Ayat ini lebih jelas menceritakan peristiwa kiamat itu dimana terjadi
guncangan dahsyat pada kulit bumi, dan bumi itu membuat manusia pangling
dan sangat pangling seakan-akan mereka mabuk padahal sesungguhnya tidak
mabuk. Runtuhnya matahari adalah merupakan tiupan sangkakala pertama
yaitu terjadi guncangan dahsyat. Hingga saat itu masih terdapat
kehidupan di atas permukaan bumi tetapi semuanya dalam keadaan panik
besar, sepanjang fase ini waktu bukanlah seperti waktu biasa tetapi ia
berjalan sangat cepat seperti sekejap mata atau lebih cepat lagi.
Kemudian disusul langit menjadi terbelah, hal ini disebabkan oleh
ledakan matahari kita, dimana tertutup dan runtuhnya matahari itu
berakibat membengkaknya partikel-partikel hydrogen yang tersisa membuat
suhu udara meningkat tinggi pada pusat matahari, lalu memacu ledakan
nova, yaitu matahari akan memuntahkan panasnya melalui kulit luarnya.
Hal ini juga telah diceritakan Alquran semenjak 14 abad lalu, pada surah
Alinfitar, Allah berfirman:
إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنفَطَرَتْ (1) وَإِذَا ٱلْكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتْ (2) وَإِذَا ٱلْبِحَارُ فُجِّرَتْ (3)
Artinya: "Apabila langit terbelah; dan apabila bintang-bintang jatuh
berserakan; dan apabila lautan dijadikan meluap" (QS: 082: 1-3).
Kejadian yang sangat dahsyat sekali membuat bintang-bintang berantakan
dan keluar dari garis edarannya, lautan meluap ketika ditimpa
puing-puing dari kulit matahari yang amat panas di dalamnya, yang
menyebabkan lautan mendidih seketika dalam bentuk ledakan-ledakan. Dan
ledakan matahari itu akan terjadi dengan cepat sekali, sebagaimana
dikisahkan Alquran pada surah Al Qiyamah, Allah berfirman:
فَإِذَا بَرِقَ ٱلْبَصَرُ (7) وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ (8) وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ (9)
Artinya: "Maka apabila mata terbelalak (ketakutan); dan bulan pun telah
hilang cahanya; lalu matahari dan bulan dikumpulkan" (QS: 075: 7-8).
Akibat dari ledakan di atas permukaan bumi tersebut akan menjadi sangat
mengerikan, sebagaimana digambarkan pula pada surah Thaha, Allah
berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ ٱلْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفاً
(105)فَيَذَرُهَا قَاعاً صَفْصَفاً (106) لاَّ تَرَىٰ فِيهَا عِوَجاً وَلاۤ
أَمْتاً(107).
Artinya: "Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung,
maka katakanlah, Tuhanmu akan menghancurkannya (pada hari kiamat)
sehancur-hancurnya; kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung)
itu rata sama sekali; (sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat
yang rendah dan yang tinggi di sana" (QS: 020: 105-107).
Maka kehancuran pada gunung-gunung dan bekasnya disama ratakan sehingga
semua permukaan bumi menjadi rata tanpa ada tempat tinggi dan rendah,
tidak ada tumbuh-tumbuhan dan tanaman-tanaman layaknya bumi saat ini.
Demikianlah segala kehidupan berakhir di atas permukaan bumi ini.
Selanjutnya, disusul oleh tiupan sangkakala kedua, yaitu kehancuran,
seperti diceritakan di dalam Alquran pada surah Annazi'at, Allah
berfirman:
يَوْمَ تَرْجُفُ ٱلرَّاجِفَةُ (6) تَتْبَعُهَا ٱلرَّادِفَةُ (7)
Artinya: "(Sungguh kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan
pertama mengguncangkan alam; (tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan
kedua" (QS: 079: 6-7).
Kemudian tiupan sangkakala ketiga dan terakhir disebut sebagai Al Qaria'ah, Allah berfirman:
ٱلْقَارِعَةُ (1) مَا ٱلْقَارِعَةُ (2) وَمَآ أَدْرَاكَ مَا ٱلْقَارِعَةُ
(3)يَوْمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ كَٱلْفَرَاشِ ٱلْمَبْثُوثِ (4) وَتَكُونُ
ٱلْجِبَالُ كَٱلْعِهْنِ ٱلْمَنفُوشِ (5)
Artinya: "Hari kiamat; apakah hari kiamat itu?; dan dan tahukah kamu
apakah hari kiamat itu?; pada saat itu manusia seperti laron yang
beterbangan; dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan"
(QS: 101: 1-5).
Pada saat itu matahari kita menjadi sebuah bola api super raksasa merah,
dimana ia akan menguapkan semua hydrogen yang ada dipusatnya, dan
matahari akan mengubah unsur helium menjadi unsur-unsur yang berat,
serta cahaya matahari akan mendekati edaran bumi. Sebagaimana hadits
dari nabi SAW, bersabda: "matahari akan mendekat kepada makhluk bumi,
sehingga mencapai jarak sekitar satu mil". Pada saat ini akan terjadi
kebangkitan, dan manusia akan dikumpulkan dihadapan Allah di padang
mahsyar. Allah berfirman:
فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ
(7)وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) وَمَآ
أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (10) نَارٌ حَامِيَةٌ (11).
Artinya: "Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya; maka dia
berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang); dan adapun orang yang
ringan timbangan (kebaikan)nya; maka tempat kembalinya adalah neraka
Hawiyah; dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?; (Yaitu) api yang
sangat panas" (QS: 101: 6-11).
Sungguh, Allah SWT telah menjelaskan kepada kita dari semenjak 1438
tahun tentang peristiwa hari kiamat dan periode-periode peristiwa dan
azabnya dengan ilustrasi yang sangat sempurna, dan belakangan para
astronom mulai meyakininya melalui berbagai observasi dan hasil-hasil
evaluasi mereka dari gejala-gejala angkasa luar, sehingga mereka
berkesimpulan bahwa sesungguhnya demikianlah akan berakhir bagi
bintang-bintang termasuk matahari kita. Allah berfirman:
إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ (27) لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن
يَسْتَقِيمَ(28) وَمَا تَشَآءُونَ إِلاَّ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ
ٱلْعَالَمِينَ (29)سورة التكوير
Artinya: "(Alquran) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam;
(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang
lurus; Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali
apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam" (QS: 081: 27-29).
Adapun waktu kiamat itu tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali
Allah, karena alasan tertentu sebagaimana firman Allah pada surah
Thaha:
إِنَّ ٱلسَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ
Artinya: "Sungguh, hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan
(waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia
usahakan" (QS: 020: 15).
Mengenai azab kiamat, Allah menceritakan pada surah Alanfal, Allah berfirman:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Artinya: "Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau
(Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan
menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan" (QS: 008: 33).
Demikian mukjizat sains Alquran pada ayat kajian, Allah berfirman:
فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ (37) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (38) سورة الرحمن
Artinya: "Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar
seperti (kilapan) minyak; Maka nikmat Tuhanmu yang manakah kamu
dustakan?" (QS: 055: 37-38).
Subhanallah, Alquran telah menceritakan kepada kita bahwasanya langit
kadang-kadang nampak terbelah menunjukkan suatu bentuk yang menyerupai
mawar merah yang menkilap, maka nikmat mukjizat dari Allah yang manakah
kamu dustakan?
Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar