Pohon Peronojiwo
Banyak ahli menyebut impotensi sebagai kegagalan mencapai atau
mempertahankan kemampuan untuk melakukan hubungan seksual secara
sempurna. Penyebab dari penyakit ini biasanya karena adanya faktor
psikologi termasuk depresi dan stres, atau faktor non-psikologi seperti
penyakit diabetes, kerusakan saraf akibat alkohol atau merokok.
Adapun cara untuk membantu mengobati penyakit impotensi adalah dengan
cara menggunakan tanaman herbal salah satunya adalah pronojiwo. Apa
itu?
Tanaman Perdu dengan buah polong dan biji membuat tumbuhan ini sering
disebut Pronojiwo (Sterculia javanica) saja. Tanaman ini dikenal sebagai
obat penguat tubuh terutama untuk lemah syahwat. Penelitian di
laboratorium yang menguji efek aphrodisiak ekstrak biji pronojiwo manis
menunjukkan bahwa tanaman ini dapat memberikan efek aphrodisiak pada
hewan uji.
Tanaman obat berpenampilan serba langsing ini dinamakan pranajiwa.
Hingga kini, tak ada catatan sejarah yang bisa menjelaskan asal mula
nama itu. Yang pasti, khasiat dan “kesaktian” tumbuhan obat multiguna
ini sangat populer di kalangan peracik obat-obatan yaitu sebagai pemacu
gairah sexual laki-laki.
Pranajiwa adalah tumbuhan perdu tegak dengan tinggi 0,5 m-1,5 m.
Sekilas, bentuk daun anggita keluarga Leguminosae ini mirip daun
melinjo. Pranajiwa terdapat di Pegunungan Himalaya, Filipina, dan
Indonesia. Biasanya, tanaman padat manfaat ini bisa kita jumpai di
daerah pegunungan dengan ketinggian 1.000 m – 2.000 m dpl.
Susunan daun pranajiwa berselang-seling dengan tangkai yang panjang.
Setiap tangkai terdiri dari 3-5 anak daun berwarna hijau mengkilat.
Panjang daunnya sekira 10 – 15 cm dengan pangkal membulat dan ujung
lancip. Sedangkan tangkai bunganya, bersembulan dari ketiak-ketiak daun,
tersusun bertandan dalam jumlah banyak. Ukuran bunga-bunga putih ini
cukup mungil, sekira 1,25 cm.
Bunga tanaman prana jiwa majemuk berbentuk tandan tegak berbulu halus.
Bunga tanaman prana jiwa ini muncul pada ketiak daun dengan tangkai
bunga silindris. Kelopak bunga tanaman prana jiwa berbagi yang terdiri
atas lima helai daun dan berwarna hijau. Benang sari tanaman prana jiwa
berbentuk silindris dan berwarna putih. Kepala putik tanaman prana jiwa
berbentuk bulat dan berwarna kuning. Mahkota bunga tanaman prana jiwa
memiliki ukuran panjang 1,5- cm dan berwarna putih.
Buah pranajiwa yang mirip polong ini, berbentuk lonjong dengan panjang
1-2 cm. Pada waktu muda, polong berwarna cokelat dan berubah hitam
keunguan setelah matang. Umumnya, dalam satu polong, terdapat satu biji
yang besar. Rasanya? Sangat pahit!
Bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat adalah biji. Biji
pronojiwo mengandung alkoloid berupa cytosin, matrin, dan matrin-N-oxid.
Sementara akar dan batangnya mengandung flavanoid, isoflavon,
pterocarpan, flavonon, dan kumaronokhomon.
Penelitian di laboratorium yang menguji efek aphrodisiak ekstrak biji
pronojiwo manis menunjukkan bahwa tanaman ini dapat memberikan efek
aphrodisiak (penguat lemah syahwat) pada hewan uji.
Uji Farmakologi Pronojiwo
Telah dilakukan penelitian efek stimulan ekstrak air biji pronojiwo (
Sterculia javanica R. Br.) terhadap susunan syaraf pusat (SSP) pada
mencit dan tikus putih. Pada pemberian oral ekstrak air biji pronojiwo
dosis 448,22; 672,33 dan 1008,50 mg/kg bobot badan (BB) terlihat efek
stimulan. Efek tersebut teramati dari peningkatan aktivitas motorik,
rasa ingin tahu, ketangkasan dan nilai ambang kelelahan pada mencit.
Peningkatan aktivitas motorik pada tikus terlihat pada pemberian oral
ekstrak air biji pronojiwo pada dosis 317,75; 470,63 dan 705,90 mg/kg
bobot badan. Dosis terkecil yang memberikan efek stimulan yang bermakna
(P=0,05) pada mencit adalah 672,33 mg/kg BB, sedang pada tikus 470,63
mg/kg BB.
Simplisia diekstraksi dengan cara infus.
Sebelum percobaan, hewan dipelihara selama 1 minggu dan diamati tingkah
lakunya. Hanya hewan-hewan yang sehat dan naif yang digunakan untuk
percobaan. Sebelum dilakukan percobaan, mencit dan tikus dipuasakan
selama 16-18 jam, air minum tetap diberikan.
– Uji “Blind Screening”
Tiga puluh ekor mencit dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok kontrol
diberi air suling, kelompok uji diberi ekstrak biji pronojiwo dosis 500;
707,11; 994,05; 1401,61; 1976,27 mg/kg bb secara oral. Efek diamati
setelah 45 menit pemberian sediaan, meliputi uji panggung, aktivitas
motorik, uji refleks, uji katalepsi, uji gelantung, uji Haffner,
pengamatan lakrimasi, salivasi, midriasis, jumlah tinja, urinasi,
mortilitas selama uji sampai 24 jam.
– Uji “Automatic Hole Board”
Kelompok-kelopmpok mencit diadaptasi dengan kondisi ruangan percobaan 1
jam sebelumnya. Dosis yang digunakan adalah 470,22; 672,33 dan 1008,5
mg/kg bb. Diberikan secara oral 45 menit sebelum mencit ditempatkan
diatas Hole Board. Kelompok kontrol diberi air suling, dan kelompok
pembanding diberi kofein dosis 15,6 mg/kg bb.
Mencit ditempatkan ditengah-tengah board, lalu alat dinyalakan.
Percobaan dilakukan siang hari dalam ruang gelap, penerangan lampu 25 VA
secara tidak langsung, tanpa pengaruh sinar matahari dan kegaduhan.
Pengamatan dilakukan setiap menit selama 5 menit.
– Uji “Tedeschi’s Actograph”
Kelompok-kelompok tikus diadaptasi dengan kondisi ruangan percobaan 1
jam sebelumnya. Dosis yang digunakan adalah 317,75; 470,63 dan 705,9
mg/kg bb. Diberikan secara oral 45 menit sebelum dimasukkan ke dalam
kotak Tedeschi’s. Kelompok kontrol diberi air suling, dan kelompok
pembanding diberi kofein dosis 10,9 mg/kg bb.
Percobaan dilakukan siang hari dalam ruang gelap, penerangan lampu 25 VA
secara tidak langsung, tanpa pengaruh sinar matahari dan kegaduhan.
Pengamatan dilakukan setiap 5 menit selama 15 menit.
– Uji “Chimney”
Sebelum percobaan mencit dipuasakan selama 16 jam. Dosis digunakan
adalah 470,22; 672,33 dan 1008,5 mg/kg bb. Kelompok kontrol diberi air
suling, dan kelompok pembanding diberi kofein dosis 15,6 mg/kg bb.
Mencit diletakkan di ujung tabung gelas “Chimney” 45 menit setelah
pemberian sediaan. Jika mencit telah mencapai ujung yang lain, posis
tabung yang horizontal diubah menjadi vertikal. Mencit akan mencoba
memanjat tabung dengan gerakan mundur. Kecepatan gerakan mencit pada
kedua posisi tabung diukur.
– Uji ketahanan (uji renang)
Sebelum percobaan mencit dipuasakan selama 16 jam. Dosis digunakan
adalah 470,22; 672,33 dan 1008,5 mg/kg bb. Diberikan secara oral,
kelompok kontrol doberikan air suling, dan kelompok penbanding diberikan
Hept amyl dosis 39 mg/kg bb.
Ikatkan pada ekor mencit pemberat 2 gram, masukkan mencit kedalam tempat
yang berisi air. Ketahanan berenang diukur dari waktu mencit berenang
sampai tenggelam.
Terlihat adanya kenaikan jumlah jengukan dan kenaikan aktivitas mototrik. Efek bertambah dengan meningkatnya dosis.
DE 50 = 672,33 mg/kg bb.
Adanya peningkatan aktivitas motorik dan rasa ingin tahu secara berarti
dibandingkan dengan kelompok kontrol (p 0,05) pada pemberian ekstrak
dosis 672,33 dan 1008,5 mg/kg bb.
Tidak ada hubungan antara dosis dengan kenaikan jumlah aktivitas motorik dan rasa ingin tahu.
Adanya kenaikan aktivitas motorik secara bermakana dibandingkan kelompok
kontrol (p 0,05) pada pemberian ekstrak dosis 470,63 dan 705,9 mg/kg
bb.
Dan terlihat adanya kenaikan aktivitas motorik pada peningkatan dosis.
Ketiga dosis ekstrak pronojiwo menunjukkan kenaikan aktivitas motorik yang berarti (p 0,05).
Tidak ada hubungan antara pertambahan dosis dengan peningkatan ketangkasan.
Adanya peningkatan nilai ambang kelelahan secara bermakna dibanding
kelompok kontrol (p 0,05) pada dosis 470,22; 672,33 dan 1008,5 mg/kg bb.
Lantas bagaimana cara mengaplikasikan pronojiwo sebagai obat lemah
syahwat? Caranya mudah kok, Anda cukup mengunyah bijinya kemudian airnya
ditelan atau tumbuk biji sampai halus dan minum bersama air susu.
Cara lain yang dapat Anda lakukan adalah dengan memanggang buah
pronojiwo setengah matang kemudian dimasukkan ke dalam gelas yang sudah
berisi air, dan air tersebut pun diminum. Biji pronojiwo yang telah
digunakan pun dapat disimpan, untuk digunakan kembali ketika
dibutuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar